Masalah Utama Terjadinya Penurunan Penjualan Olshop

Setelah menelusuri lebih dalam, saya berkesimpulan bahwa penurunan penjualan olshop pertengahan tahun ini (dimulai dari sekitar bulan puasa sampai 2 bulan setelah lebaran) bisa jadi dikarenakan beberapa faktor masalah.

Dan disini, saya coba merangkumnya menjadi 5 masalah utama berikut cara efektif yang bisa dilakukan untuk mengatasi serta menyiasatinya.

Untuk Anda para penggiat olshop, terlepas dari apapun produk yang Anda jual, semoga postingan kali ini bisa jadi koreksi atau checklist untuk performa olshop Anda kedepannya, baik dari segi trafik maupun penjualan.

Masalah Utama Terjadinya Penurunan Penjualan Olshop

Berikut ini adalah 5 masalah utama terjadinya penurunan penjualan olshop dan cara efektif untuk mengatasinya.

1. Daya Beli Masyarakat yang Sedang Menurun

Faktor yang pertama ini saya kira adalah faktor utama yang paling mempengaruhi terjadinya penurunan jumlah transaksi jual-beli online. Saya bukan ahli ekonomi jadi tidak bisa memberikan detail teori atau rincian sistematisnya, tapi berdasarkan yang saya lihat, hal ini dipicu naiknya harga BBM yang berdampak pada harga-harga kebutuhan pokok, biaya produksi, biaya transporti dsb. Yang akhirnya, membuat daya beli masyarakat untuk berbagai kebutuhan terutama kebutuhan sekunder menurun drastis.

Daya beli masyarakat yang menurun sekitar pertengahan tahun ini mungkin juga dikarenakan terbenturnya 3 momen nasional pada waktu yang hampir bersamaan yakni Hari Raya Idul Fitri (saatnya beli-beli barang/hadiah untuk mudik), Libur Sekolah (saatnya menyisihkan anggaran untuk acara rekreasi keluarga) dan Kenaikan Kelas (saatnya merogoh kocek untuk biaya pendaftaran siswa baru, uang gedung, seragam baru, dsb). 3 momen ini cukup menguras isi kantong terutama buat mereka yang sudah berkeluarga dengan beberapa anak. Dan mungkin dibutuhkan waktu sekitar 2-3 bulan untuk recovery dan menstabilkan arus kas kembali.

Solusi bagi penggiat olshop menyikapi fenomena ini adalah dengan bersabar dan berharap semoga dibulan-bulan berikutnya daya beli masyarakat sudah kembali normal. Saya tidak menemukan solusi efektif untuk masalah ini karena memang dibandingkan kebutuhan belanja online, kebutuhan pokok masyarakat serta 3 momen tahunan mereka terasa lebih penting.

Solusi alternatif, yang efektif dan sudah saya praktekkan justru dengan mencari penghasilan tambahan diluar olshop dan pilihan saya jatuh ke Google Adsense (dengan menggunakan web bule). Alhamdulillah, dengan beberapa bulan kerja keras (lebih tepat kerja cerdas saya menyebutnya) di bulan terakhir kemarin earning web-web bule saya plus web-web lokal (transformasi dari proyek small pbn) total sudah bisa menghasilkan 4 digit dollar perbulan (angka yang cukup keramat bagi para Imers lokal, seperti halnya six-figure kalo marketer luar). Mungkin dipostingan berikutnya saya akan membahas tentang monetize adsense web bule ini.

Beberapa alternatif bisnis onlen lain yang bisa Anda coba: CPA, Affiliate, Adsense YouTube, Fiverr, Jual beli Web, SEO/Backlink Service, dsb. Untuk long term, Lebih bagus jika Anda memilih sesuai dengan minat Anda ketimbang karena iming-iming screenshot earning gede di fesbuk. Trust me!

2. Olshop Pesaing yang Semakin Banyak

Untuk masalah yang kedua ini solusinya menurut saya adalah dengan menambah jumlah olshop Anda. Semakin banyak olshop yang Anda kelola, makin banyak pembeli yang bisa dijaring. Silahkan cek di mall-mall atau pusat-pusat perbelanjaan, setiap toko besar biasanya mempunyai cabang lain meski kadang tempatnya berdekatan (biasanya beda lantai). Tujuannya tentu saja tak lain adalah agar customer yang diperoleh bisa lebih banyak. Tentu saja sebelum menambah jumlah armada onlen shop Anda, Anda harus memastikan olshop yang sebelumnya sudah stabil dan mapan baik dari sisi administrasi, SDM, trafik dan sebagainya. Jangan membuat amunisi baru jika yang satunya belum betul-betul ready, karena malah akan membuat konsentrasi jadi terpecah, optimasi jadi asal-asalan dan penjualan pun tidak maksimal karena waktu untuk maintenance olshop menjadi berantakan.

Pengalaman ketika saya memulai terjun di bidang oslhop, saya buat 1 web dulu. Setelah kurang lebih 3-4 bulan baru saya buat web yang kedua. Setelah 2 web ini cukup stabil dari segi trafik dan penjualan, serta SDM (untuk administrasi dan customer service), barulah saya buat web yang ketiga dan kemudian yang keempat. Tips ini juga berlaku ketika Anda mulai merekrut karyawan sebagai admin/CS. Rekrut 1 orang dulu, ajari sampai bisa, baru kemudian rekrut orang kedua. Suruh karyawan pertama untuk mengajari karyawan kedua, dan seterusnya. Jangan merekrut karyawan secara bersamaan karena Anda akan kesusahan untuk mengajarinya. Jangan juga merekrut hanya 1 karyawan karena ketika dia keluar maka Anda harus mengajari karyawan baru lagi dari awal.

FYI, dari keempat web olshop yang saya kelola tiga web berada dalam 1 ceruk pasar (niche) yang sama. Jadi lebih mudah bagi saya untuk mengatur stok barang (karena produknya sama semua), lebih mudah dalam optimasi SEO (karena sudah familiar dengan keyword-keywordnya), lebih mudah untuk updet konten (karena sudah familiar dengan istilah-istilah produknya), lebih mudah dalam perekrutan karyawan baru (karena bisa di training sendiri oleh karyawan lama), dan kemudahan-kemudahan lain yang tentunya lebih sulit didapat jika kita mengelola olshop dengan niche/produk yang berbeda-beda.

Olshop pesaing yang semakin banyak tidak harus menjadikan Anda gentar, tapi sebaliknya bisa jadi sarana untuk tetap mengevaluasi dan memperbaiki diri. Karena dengan persaingan, kita lebih terpacu untuk menyuguhkan versi terbaik dari olshop yang kita bangun. Dengan munculnya olshop-olshop pesaing saya jadi bisa mendapatkan komparasi bagaimana cara mendesain web olshop yang catchy dan atraktif, bagaimana membuat promo yang menarik minat calon pembeli dan sebagainya.

Kita tidak bisa mengurangi jumlah pesaing dengan cara dari luar misal memakai black campaign (seperti kasus iPhone vs Sabun Nuvo yang sempat hot) atau negative SEO (untuk menjatuhkan kompetitor di SERP) karena tentu saja selain cara itu tidak etis dan tidak terpuji, jumlah saingan terutama di SERP pun bejibun jumlahnya. Satu kompetitor kita jatuhkan, 2 kompetitor baru muncul. 2 kompetitor kita jatuhkan, 4 kompetitor baru muncul. Begitu seterusnya. Karena membuat web sekarang ini bisa dalam hitungan jam, bahkan menit. Jadi daripada capek-capek menghadapi saingan dari luar, jauh lebih baik menghadapinya dari dalam, yaitu dengan menambah serta memperbaiki olshop yang kita punya. Setujuu…??! 😀

3. Web Marketplace dan Big Player yang Makin Menjamur

Seingat saya beberapa tahun yang lalu, web marketplace dan Onlen Shop besar (saya sebut Big Player) yang populer hanya sebatas Tokopedia, Berniaga, Tokobagus (kini OLX), Lazada dan Zalora. Sekarang ini, web-web marketplace dan big player ini makin banyak bermunculan. Walaupun beberapa sudah lama berdiri, namun gaungnya baru-baru saja ini makin santer terdengar. Sebut saja Bukalapak, Elevenia, Bhinneka, Lamido, Rakuten, Blibli, Shopious, dan sebagainya.

Makin menjamurnya pemain besar di bisnis e-commerce Indonesia mempunyai sisi positif dan negatif untuk para pemain kecil seperti saya dan mungkin Anda. Dengan dana promosi yang gila-gilaan (bahkan sampai iklan di TV) tentu saja membuat branding mereka cepat melekat dibenak para shopper online. Sisi positifnya (terutama untuk web marketplace), mereka bisa dijadikan tempat instant buat jualan. Kebanyakan web marketplace di Indonesia masih menggratiskan keanggotaan, jadi tinggal register kemudian upload produk kita sudah bisa jualan. Tidak perlu promosi kanan kiri atau capek-capek optimasi seo karena lapak kita menempel di web besar yang sudah mempunyai branding. Sisi negatifnya, kehadiran web-web marketplace besar ini membuat web-web olshop kecil menjadi agak tersisihkan. Faktor branding dan trust (karena dana promosi yang gila-gilaan) bisa jadi alasan utama calon membeli lebih memilih berbelanja di web-web besar tersebut daripada olshop yang kita kelola.

Solusi efektif untuk masalah ini menurut saya adalah dengan permainan harga. Seperti kita ketahui, biasanya harga barang di web-web ecommerce besar  relatif lebih mahal dibanding dibanding harga normal (cukup masuk akal mengingat web ecommerce besar memerlukan laba tinggi untuk menutup tingginya biaya promosi dan operasional). Disini pemain kecil lebih diuntungkan karena relatif lebih minim dalam biaya promosi dan operasional, jadi harga jual bisa ditekan serendah mungkin agar bisa lebih bersaing dan menarik minat pembeli yang sedang mencari produk dengan harga yang lebih murah.

4. Iklan Adwords di SERP yang Makin Mendominasi

Menjamurnya web-web ecommerce besar juga berimbas ke porsi iklan adwords di SERP Google yang makin mendominasi. Silahkan cek beberapa keyword utama untuk olshop Anda, bisa jadi jumlah iklan dan jumlah hasil organik nya setara. Hal ini tentu saja mengurangi jumlah trafik ke olshop yang menggunakan strategi SEO karena posisi top 1 mereka semakin tergeser kebawah oleh iklan yang makin banyak.

Tambahan lagi, kebanyakan web ecommerce besar sekarang juga menerapkan strategi iklan retargeting, yang kemungkinan sangat bagus konversinya (dengan biaya yang lebih mahal daripada iklan biasa). Retargeting ini juga merambah sampai ke FB Ads.

Ada pengalaman yang cukup menarik perihal retargeting ini. Beberapa bulan lalu saya agak bingung karena halaman fesbuk saya isinya iklan botol bayi melulu, usut punya usut ternyata istri saya belakangan sering memakai PC saya untuk membeli barang kebutuhan sikecil di Lazada. Jadilah akun fesbuk saya yang jadi korban karena retargeting ads tersebut tentunya mengambil data cookies dari PC saya.

Solusi untuk masalah dominasi iklan ini, bisa Anda atasi dengan cara ikut juga beriklan, atau dengan cara yang lebih smart, menjadi penumpang gratisan. Caranya, cari web-web marketplace yang biasa beriklan di Adwords (atau juga FB ads) dan buat akun jualan dimarketplace tersebut. Jika beruntung, barang jualan anda akan diiklankan oleh mereka. Cara ini tidak selalu berhasil, tapi jika jenis barang yang Anda jual cukup tinggi peminatnya maka peluang untuk diiklankan akan lebih besar.

5. Faktor Trust (Kepercayaan)

Poin ini masih terkait dari poin-poin sebelumnya (3 & 4), dominasi Big Player (web ecommerce besar) membuat faktor trust ini menjadi lebih krusial. Bagi mereka yang takut ditipu (atau sudah pernah ketipu waktu berbelanja online) kemungkinan lebih memilih berbelanja di web-web besar yang lebih aman dan sudah terbukti kredibilitasnya (karena iklannya dimana-dimana) dibanding dengan di olshop-olshop kecil yang mayoritas dikelola perorangan.

Beberapa solusi yang bisa Anda lakukan antara lain :
– Membuat tampilan web lebih profesional (Anda bisa melihat web-web ecommerce besar baik lokal maupun luar sebagai sumber inspirasi).
– Halaman Cara Pemesanan dan Ketentuan Layanan yang jelas dan mudah dimengerti.
– Menyertakan halaman-halaman pendukung seperti halaman resi, testimoni, dsb.
– Menyertakan detail produk seakurat dan sejelas mungkin.
– Nama domain yang singkat dan mudah diingat.

Itulah kelima faktor yang menurut saya sangat mempengaruhi menurunnya penjualan olshop belakangan ini. Dengan memperhatikan dan mengevaluasi kelima faktor diatas, saya harap olshop yang sudah Anda bangun dengan susah payah bisa stand-out lagi dan siap bersaing dengan olshop-olshop yang lain.

Hits: 32

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •